Mencintai Anak atau Membuat Anak Merasa Dicintai?

Bismillahirrahmanirrahim, September ini banyak hal positif yang terjadi dalam hidup saya. Terutama di bagian anak-anak dan keluarga. Alhamdulillah banget, ketika tahun lalu saya berkutat dengan anak yang tantrum dan enggak mau masuk sekolah. Tahun ini sebaliknya. Kakak mengalami perubahan yang saya bilang cukup drastis.

Bukan tanpa alasan ia berubah. Ini karena Allah Maha Baik, dan doa serta ikhtiar kami berbuah manis. Buat yang belum tahu apa yang terjadi pada Kakak, alias anak pertama saya, bisa baca di Pengalaman Menghadapi Anak Tantrum dan Cara Mengatasi Anak Mogok Sekolah.

Anak saya benar-benar berubah, ketika orangtuanya terlebih dulu berubah. Saya akui, dulu saat anak masih kecil, saya lebih fokus ke perkembangan motorik, sensorik, bahasanya. Tapi saya melupakan aspek emosinya. Lebih parahnya, saya bahkan tidak tahu ada aspek perkembangan bernama EMOSI.

Sampai akhirnya saya menghadapi anak dengan sisi emosional yang bergejolak. Ditambah ibunya sendiri juga ikutan panik dan tantrum saat anak tantrum. Sungguh masa-masa yang luar biasa mengerikan waktu itu. Kalau bisa, ingin saya hapus kenangan pahitnya.

Bahkan ketika saya tanya ke Kakak, apakah ia ingat kenangan indah ini dan itu bersama saya? Misalnya seperti rutin berenang bersama seminggu sekali, memberi makan rusa setiap hari, dan sebagainya. Ia bilang tidak ingat:(. Sebaliknya, ketika saya tanya kenangan buruk ini dan itu, ia jawab kalau ia mengingatnya. Astaghfirullah, begitu banyak penyesalan terhadap hal yang dulu saya lakukan ketika menjadi ibu baru.

Saya bersyukur enggak sampai gila, cuma nyaris aja. Saya bersyukur enggak sampai bunuh diri, cuma sempat kepikiran bunuh diri. Saya bersyukur terhadap peristiwa-peristiwa yang mengajarkan saya bahwa menjadi ibu terbaik itu adalah proses yang cukup panjang. Seiring anak bertumbuh, semestinya orangtua juga bertumbuh.

Jadi, kalau saya rangkum, Kakak mengalami masalah berupa lonjakan emosi yang tidak stabil. Ia merasa kurang dicintai, dihargai, sehingga kurang dapat mengekspresikan emosinya dan cenderung melakukan hal negatif.

Saya memang tidak pernah mengajarkan apapun terkait ekspresi emosi. Sedangkan ia mencontoh yang dilihatnya dari Ayah Bundanya (yang saat itu juga sedang bermasalah). Saya yang cenderung emosional. Ketika enggak cocok terhadap suatu hal langsung bak buk, ngomel-ngomel. Sementara suami saya sebaliknya, ketika marah, kecewa, sedih, tidak ada ekspresi yang diungkapkan, hanya diam dan diam.

Kakak kebingungan sehingga ia meniru cara ekspresi tersebut:(. Yang terjadi adalah, hampir 4 tahun (sejak usianya 2-6 tahun) saya harus menghadapi tantrumnga yang berulang. Bukan cuma 1-2 x sehari ya. Tapi bisa sampai 5-10x sehari, dengan durasi 30 menit-menit 2 jam. Bayangkan! Apa saya enggak nyaris gila?? Apa jiwa anak saya sangat kekurangan cinta? Hiks

Sayangnya waktu itu, saya merasa tidak mendapat dukungan dari suami. Bukan karena ia tidak mau, tapi karena ia sama bingungnya dengan saya. Kami sama-sama tidak mengerti apa yang salah. Apa yang harus diubah. Dan apa yang harus dilakukan.

Saya sudah mencari bantuan ahli. Mulai dari ke psikolog UI, Sardjito, puskesmas, hingga akhirnya ke swasta yaitu Kemuning Kembar. Di sana, anak kami diobservasi, dan kami mendapatkan jawaban yang mencengangkan. Intinya tadi, kami harus mulai dari awal mengajarkan ekspresi emosi yang baik dan benar (ini termasuk saya dan suami harus ikut berubah dalam mengekspresikan emosi, karena apa gunanya kartu emosi berkata A, tetapi ortunya mencontohkan B).

Saya dan suami harus lebih banyak menunjukkan bahasa cinta seperti memeluk dan menciumnya. Suatu hal yang tadinya tidak terlalu kami perhatikan. Saya dan suami harus lebih banyak memuji. Kami harus lebih banyak mendengarkan dibanding berbicara dan menuntut.

Kelak dikemudian hari, tepatnya tanggal 8 September 2018, pertama kalinya saya mengenal yang namanya tangki cinta anak, dan bahasa cinta anak.

Ya, tahun ajaran baru 2018 ini, si Kakak pindah sekolah, karena di sekolah yang lama sudah tidak kondusif lagi. Si Adek yang tadinya mau saya daftarkan di sekolah lama Kakaknya, batal sekolah di sana. Akhirnya Adek juga saya daftarkan di sekolah baru Kakaknya.

bahasa cinta anak
Adik dan Kakak di sekolah baru

Alhamdulillah, ini adalah salah satu jalan keluar yang Allah berikan pada keluarga kami. Ditemukan dengan sekolah yang mau berproses bersama orangtua dalam mendidik anak. Dipertemukan dengan guru-guru yang tidak hanya mengajar dan merasa paling benar dan paling tahu, tapi mereka mau belajar terus dan terus.

Kenapa saya bilang begitu? Salah satunya karena adanya parenting day alias acara parenting. Mungkin semua sekolah punya acara ini, tapi ada satu hal yang berbeda. Acara parenting di sekolah baru anak saya, tidak hanya ditujukan untuk para orangtua, tapi juga ditujukan untuk para guru (yang merupakan orangtua kedua anak-anak di sekolah).

Maka materi-materi yang dibawakan juga mengakomodir untuk dilahap oleh orangtua dan guru. Tidak hanya bagaimana menjadi orangtua yang memahami anak, tapi juga menjadi guru yang memahami anak. Jadi, di setiap acara parenting atau minggu tertentu ketika psikolog datang untuk mengamati murid-murid secara langsung, semua guru juga ikut hadir. Mereka ikut mendengarkan dan aktif bertanya. Masyaallah, optimisme saya terhadap pendidikan Indonesia meningkat tajam.

Oke, kembali ke bahasa cinta anak. Materi ini dibawakan oleh psikolog, Ibu Siti Sholihah. Yang saya senang dari Bu Siti ini adalah, beliau tidak malu mengakui bahwa ia sama seperti ibu-ibu lain. Pernah menghadapi anak yang mogok sekolah selama 6 bulan lamanya. Pernah menghadapi kondisi dimana sang anak menginginkan agar ia dapat mengantarnya ke sekolah (padahal Bu Siti adalah ibu bekerja 7-16), dan sebagainya.

Saya datang agak telat, dan sepertinya ketinggalan beberapa materi. Padahal ternyata materinya begitu bagus dan penting. Tapi enggak papa, saya coba rangkumkan agar banyak teman-teman saya yang membaca.

ABK atau Bukan?

Salah satu guru sepertinya bertanya mengenai diagnosa seorang anak dikatakan ABK atau bukan, bagaimana mengetahui gejala awalnya. Agar tidak terlambat dalam memeriksakan ke ahli dan memberikan terapi yang sesuai.

Ibu Siti menyampaikan, cara paling mudah adalah mengamati apakah ada sesuatu yang janggal di anak tersebut. Misalnya:

– Tahapan perkembangan terlewati

Harusnya sudah bisa jalan tapi tidak bisa. Harusnya sudah bisa bicara tapi belum bisa, dll. Cara ceknya dimana? Bisa download atau searching tentang milestone anak seusai usianya. Di website IDAI kalau enggak salah ada. Atau coba cari buku mengenai pertumbuhan dan perkembangan anak/milestone anak. Lalu cocokkan dengan perkembangan yang bisa dilewati anak. Waspada ketika tahapannya ada yang terlewati atau tidak semestinya.

– Berbicara tidak mau menatap

Seharusnya ketika berbicara, anak dapat menatap lawan bicaranya. Jika hal tersebut tidak terjadi, mulailah cari tahu apa penyebabnya.

– Tidak mau berbagi

Seharusnya anak mau berbagi, meskipun jarang, meskipun kadang egonya tinggi. Anak yang sama sekali tidak mau berbagi, bisa jadi bermasalah, atau bahkan ABK.

– Tantrum berulang

Seharusnya tantrum tidak terjadi berulang, dan pencetus-pencetusnya juga dapat diuraikan. Bila tantum masih saja terjadi padahal orangtua sudah memberikan respon yang sesuai dalam menghadapi tantrumnya, mulailah waspada dan memeriksakan anak ke ahli.

Kita tidak dapat terburu-buru menyimpulkan seorang anak itu ABK atau bukan, hanya berdasarkan perilakunya. Bisa saja seperti yang saya alami, yaitu pendekatan yang salah dalam merespon, atau dalam stimulasi.

Ada lho anak yang tidak dapat berbicara padahal sudah 3 tahun. Usut punya usut ternyata kurang stimulasi. Sang ibu bekerja di rumah dengan gawai dan laptop (saya banget nih). Ibu hadir di samping anak, tapi ia tidak benar-benar hadir secara emosi. Jarang bercerita, jarang mengobrol, hingga akhirnya anak lebih memilih menunjuk atau menggunakan bahasa isyarat untuk meminta sesuatu, dibanding bicara:(

Ketika ada anak yang memang ABK, harus didasari oleh diagnosa dari psikolog dan dokter. Misalnya saja pada kasus identifikasi hiperaktif. Jika terbukti hiperaktif, akan ada diet khusus terhadap tepung, gula, dll.

Bagaimana dengan autis?

Autis sendiri ada berbagai jenis. Ada jenis autis dimana sang anak tetap bisa masuk ke sekolah normal. Ada jenis autis yaitu autis safan (semoga enggak salah dalam penulisannya) dimana anak tersebut justru punya kelebihan pada salah satu bidang misal matematika, bahasa, seni dan sangat menonjol, tetapi mempunyai kelemahan dalam sosial.

Jika range-nya “ketidaknormalan nya” masih di bawah anak-anak ABK, maka anak tersebut masih bisa sekolah di sekolah normal. Biasanya yang membutuhkan shadow alias pendamping adalah anak yang sulit fokus, sehingga kesulitan untuk beradaptasi di ekolah normal.

Anak-anak autis kadang IQ -nya justru superior, very superior tapi uncontrol, susah fokus, dan unsocial. Contoh terapi: dengan musik, gambar dan tari agar fokus. Mulai dari bidang yang ingin dia dekati.

Untuk cara berkomunikasi dengan anak autis atau ABK, membutuhkan skill. Perlu diasah. Pahami karakter anaknya dulu. Enggak bisa disambi. Mengamati setiap ritme perubahan pada anak tersebut, targetnya apa tiap hari, misal hari ini target membuat dia fokus 5 menit saja.

Komunikasi yang disukai anak adalah komunikasi yang masuk ke dunia mereka. Berbicara sejajar, ekspresif (excited dengan yang ia lakukan).

Nah, benar kan, acara parenting ibu juga berguna untuk para guru di sekolah agar mereka mengetahui bahwa komunikasi terhadap setiap anak bisa jadi berbeda, tergantung karakter anak. Anak saya dua orang saja karakternya beda, padahal orangtuanya sama. Apalagi belasan sampai puluhan anak di sekolah yang orangtuanya berbeda, jelas karakternya bakal beda.

Bagaimana Cara Untuk Memunculkan Kebiasaan Bercerita?

membaca buku anak

Pembahasan ini muncul terkait dengan anak yang tidak mau bicara. Jadi, salah satu cara stimulasinya adalah dengan menumbuhkan kebiasaan bercerita. Cara paling mudah agar anak mau berbicara adalah kita bercerita, bisa mulai dari apa yang ada di dalam kamar, atau media buku cerita.

Buku yang dibeli tidak hanya diletakkan begitu saja, lalu anak diminta membukanya sendiri. Tapi orangtua hadir di tengah-tengah anak untuk membacakannya, menceritakan nya.

Cara ini bukan hanya menumbuhkan minat anak terhadap buku dan literasi, tapi juga memupuk bondong orangtua dan anak.

Bukan hanya anak lho yang butuh bonding. Justru orangtua yang butuh. Pernah dengar enggak soal anak yang enggak patuh kepada orangtuanya, atau bahkan menelantarkan oragtuanya? Jangan buru-buru menyalahkan anak, bisa jadi sewaktu anak masih kecil, bonding ya tidak ada dengan orangtua. Sehingga saat ia dewasa ya semau-mau gue. Hidupnya dan hidup orangtua terpisah. Ia tidak peduli dengan yang terjadi pada orangtuanya.

Perlu dibedakan ya antara bonding dengan fasilitas. Kalau ortu bilang, kan udah disekolahkan ke tempat terbaik, kan sudah dikasih makan, dikasih sopir, dikasih uang, dll. Itu namanya fasilitas, bukan bonding. Bukan bahasa cinta.

Lalu bagaimana kah bahasa cinta itu? Kita lanjut yuk.

Bahasa Cinta Anak

Tidak ada yang namanya anak nakal, yang ada hanyalah anak yang kesulitan dalam mengekspresikan dan mengelola emosi dan keinginannya. Ketika ada anak yang bermasalah, maka yang harus pertama kali introspeksi adalah orangtuanya. Karena karakter anak berasal dari keluarganya, bukan lingkungan nya.

Bahasa cinta adalah bagaimana orangtua mencintai anak tanpa syarat, dan memberikan yang dibutuhkan anak agar merasa dicintai. Cinta yang diberikan harus luber-luber, agar anak tidak perlu melakukan hal negatif untuk meminta perhatian orangtuanya.

Anak merasa dicintai bila bagaimana?

1. Harus merasa aman

Merasa aman dengan cinta. Kalau anak minta tolong sesuatu ya diiyakan, bukan dilempar ke orang lain (huaa). Tidak mengatakan sebentar ya, nanti ya (PR banget nih buat saya). Mencium anak sekolah sebanyak-banyaknya sebelum nanti mereka sudah enggak mau dicium (usia 12 tahunan biasanya mulai enggak mau).

2. Perasaan dihargai

Anak akan merasa dihargai bila kita mendengar yang diceritakan, dan ada bersamanya. Menghargai dia memilih, misal mengiyakan baju sesuai pilihannya. Menghargai yang sudah dilakukan walau sederhana.

3. Perasaan diterima

Tidak dibandingkan dengan kakak, adik, temen, dll (wow ini juga prakteknya kudu telaten).

Jika kebutuhan anak di atas tidak terpenuhi, maka anak akan menangis, berteriak, mencari perhatian. Anak bisa marah-marah hingga berguling dilantai. Mereka melakukannya untuk mendapat power supaya yg diinginkan dipenuhi.

Bahkan anak dapat membalas dendam lho, yaitu dengan cara membuat malu di tempat umum, bersikap dengan tidak sopan misalnya, karena yang diinginkan tidak didapatkan. Ini adalah contoh mekanisme tantrum.

Contoh lain warning tangki cinta anak mulai kurang adalah ia mencari perhatian dengan berkata bahwa dia sakit, merajuk. Bedakan dengan “benar-benar” sakit ya.

Ketika anak mulai menggunakan cara-cara yang paling mudah untuk mendapatkan perhatian, maka warning ada sesuatu. Kalau tangki cinta enggak diiisi, anak akan merasa insecure, cemas, gelisah, dll.

Anak akan meminta secara baik-baik untuk diperhatikan, tapi jika tidak berhasil diperhatikan. Maka anak akan memunculkan perilaku yang tidak disukai agar perhatian beralih padanya.

Tangki cinta harus diisi oleh kedua orangtua, ayah dan ibu. Cek bahasa cinta anak apa? Kalau usia anak di bawah 5 tahun ya semuanya sebaiknya dilakukan.

Bahasa Cinta agar Anak Merasa Dicintai

Mencintai anak sih pasti ya. Saya rasa enggak ada orangtua yang enggak sayang dan cinta pada anaknya. Tapi apakah kita sudah benar-benar membuat anak merasa dicintai?

Mungkin ada yang masih bertanya-tanya, cara agar anak merasa dicintai itu, orangtuanya harus melakukan apa?

Nah, caranya sudah terangkum oleh Bu Siti menjadi lima, yaitu:

1. Melalui waktu yang berkualitas

Bukan 1 atau 2 jam. Tapi terlibat dengan aktivitas nya. Tidak sekali atau dua kali tapi continue dan konsisten. Seperti sudah saya tulis di atas, waktu berkualitas itu artinya fokus. Enggak disambi-sambi. Enggak disambi nonton tv, mengobrol dengan tetangga, main gawai, atau disambi ngoprek-oprek dapur. Berikan anak waktu dimana kita bisa fokus terhadapnya.

2. Melalui kata-kata positif atau pujian atau dukungan.

Pujian yang diberikan harus tulus dan spesifik . Bukan hanya pintar, hebat tapi hebat mau berbagi dengan teman, luar biasa makannya habis, dan sebagainya. Anak perlu tahu kenapa ia disebut pintar? Hebat kenapa? Karena yang dipuji adalah perilaku, bukan anaknya.

Saya juga punya pengalaman menarik nih soal ini. Dulu saya dan suami memuji anak secara general. Kakak hebat, Kakak pintar, Kakak baik. Lalu ketika ia melakukan hal negatif, ia tidak mau menerima masukan. Karena ia hebat dan pintar:(.

Oleh karena itu, semakin spesifik pujian, anak akan mengulang terus perilaku positif tersebut. Berbeda ketika yang dipuji adalah sosoknya, anak bisa saja menjadi lalai terhadap pentingnya perilaku positif.

Contoh lain adalah pujian ketika anak membereskan mainan. Orangtua harus partisipatif. “Yuk kita masukkan mainannya satu persatu. Hebat mau membantu bersama-sama.” Begitu lah contoh kalimat yang dapat digunakan oleh orangtua.

Anak-anak memang harus diekspresikan dengan detail. Karena otak mereka menerima sesuatu yang detail. Masih masa pengenalan berbagai ekspresi dan pembentukan perilaku.

Baca juga 5 Cara Pelibatan Keluarga dalam Penyelenggaraan Pendidikan Generasi Milenial

3. Melalui sentuhan fisik

memeluk anak

Menyayangi, membelai, memeluk. Lakukan terus menerus dan setiap hari. Tidak harus momen khusus.

Salah satu tanda tangki cinta anak penuh, anak menyambut orangtua ketika pulang. Bercerita tanpa diminta. Anak menyambut dengan pelukan, ngusel-ngusel, yang artinya dia merasa aman dan nyaman.

4. Melalui pelayanan

Menyiapkan makanan, pakaiannya, kebutuhan nya yang lain dengan tidak ngomel-ngomel. Hehe

5. Hadiah

main pasir pantai
Bebas main pasir pantai

Hadiah pada timing dan kesempatan yang tepat. Bentuk tidak hanya barang. Hadiah dapat tiba-tiba di unpredictable time. Bukan disaat ultah saja. Misal mengajak anak ke pantai main pasir dll. Menghadiahi dinding ekspresi di rumah, bebas digambar atau di apakan saja.

Pada anak dengan usia 0-5 tahun, semua cara bahasa cinta di atas harus diberikan. Fungsinya agar tangki cinta anak terisi setiap hari. Anak-anak dengan tangki cinta yang terisi penuh, akan berperilaku dengan penuh cinta juga. Insyaallah semua anak-anak kita begitu ya, Bunda. Semoga kita juga dapat terus mengisi tangki cinta anak-anak. Aamiin.

Jadi, kebaca kan sekarang kaitan antara perilaku negatif anak dengan pentingnya bahasa cinta dan terisinya tangki cinta anak? Ilmu baru untuk saya, yang tentunya membuat saya tertohok berulang kali.

Tidak mudah membersamai anak tanpa disambi. Tidak mudah memberikan waktu berkualitas ketika tugas kantor menumpuk, cucian dan setrikaan menggunung. Tidak mudah fokus pada anak jika jumlah anak sudah lebih dari satu. Tidak mudah memberikan cinta pada anak ketika kita sendiri kurang cinta dari pasangan misalnya. Ya, tidak ada yang selalu mudah di dunia ini, tapi bukan berarti tidak dapat dilakukan, kan?

Insyaallah, kita semua dimudahkan dalam memberikan bahasa cinta kepada anak:)

 

Yogyakarta, 9 September 2018

-Dian Farida Ismyama-

Iklan

Satu tanggapan untuk “Mencintai Anak atau Membuat Anak Merasa Dicintai?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s